Pengalaman Tentang Adversity Quotion

Dalam postingan kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang tema yang saya angkat pada wordpress saya ini. Adversity Quotient atau suatu kemampuan seseorang dalam menghadapi setiap tantangan yang seringkali muncul sebagai sebuah cobaan di kehidupan kita. Sekitar kurang lebih 6-7 bulan yang lalu, saya adalah seorang pelajar dibangku sekolah menengah atas. Sebagai seorang pelajar yang ingin lulus, saya mau tidak mau dan siap tidak siap harus menghadapi sebuah ujian nasional yang rutin diadakan setiap tahun secara serentak diseluruh Indonesia. Sesuatu yang beda muncul ditahun kelulusan angkatan 2013. Pemberitaan di media gencar membicarakan tentang pelaksanaan UN akan diadakan 20 paket soal dalam satu kelas. Sebagai pelajar yang biasa-biasa saja, jelas saya merasa kaget, takut, dan putus asa. Meskipun beredar juga kabar bahwa kelulusan tidak bergantung pada nilai UN namun tidak menurunkan mengurangi rasa takut saya dalam menghadapi ujian nanti. Selama kelas 3 SMA saya rajin mengikuti bimbel, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ini merupakan salah satu usaha saya untuk menghadapi UN nanti. Tidak selesai sampai di UN, seleksi masuk ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) juga semakin sulit. Seleksi gelombang pertama pada saat itu adalah melalui rapot, nilai selama saya bersekolah yang menentukan masuk atau tidaknya saya ke PTN yang saya inginkan. Saat itu saya gagal, rasanya sudah lumayan menguras tenaga dan pikiran tapi saya harus tetap berusaha karena sayayakinsetiap orang punya jalannya masing-masing. Kemudian saya mendaftar di gelombang kedua, SBMPTN. Berbeda dengan yang pertama, saya harus lebih giat belajar karena SBMPTN merupakan seleksi masuk PTN dengan menggunakan tes. Kurang lebih satu bulan saya menyiapkan diri, belajar latihan soal-soal, mengikuti bimbel, dan tidak lupa meminta pertolongan dari Allah SWT.

Saat pengumuman tiba, hal yang ditunggu-tunggu adalah kata lulus. Alhamdulilah saya lulus dari sekolah yang tercinta, kemudian diterima di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau selalu berusaha dan berdoa, tidak berhenti pada satu titik dan menganggap dirinya sudah cukup berhasil. Karena itu pula diterima di Universitas Padjadjaran bukan berarti akhir, tapi merupakan awal lagi untuk menjemput kesuksesan-kesuksesan lainnya.

Begitulah pengalaman saya yang dapat saya ceritakan kepada teman-teman. Bagaimana dengan kalian?

Advertisements

Quitters, Campers, dan Climbers di Tempat Kerja

Menurut definisinya, Quitters bekerja sekedar cukup untuk hidup. Mereka memperlihatkan sedikit ambisi, semangat yang minim, dan mutu dibawah standar. Mereka mengambil resiko sesedikit mungkin dan biasanya tidak kreatif, kecuali saatmereka harus menghadapi tantangan-tantangan yang besar. Quitters tidak banyak memberikan sumbangan yang berarti dalam pekerjaan, sehingga mereka merupakan beban mati bagi perusahaan.

Sebagaihasil pendakian yangtidak selesai itu, dan berbeda dengan Quitters, Campers masih menunjukkan sejumlah inisiatif, sedikit semangat, dan beberapa usaha. Mereka akan bekerja keras dalam hal apapun yang bisa membuat mereka merasa lebih aman dibandingkan dengan yang telah mereka miliki.Mereka masih mengerjakan apa yang perlu mereka kerjakan. Kebanyakan Campers tidak akan dengan sengaja mengambil risiko dipecat dengan kinerja mereka. Inilah bagian tersulit dan termahal dari menjadi seorang Campers.

Apabila anda mengenal orang semacam itu, ketahuilah bahwa ia mungkin tidak menggunakan semua kemampuannya, tetapi yang dikerjakannya hanya cukup membuat dia tetap dipekerjakan. Namun, di zaman seperti ini ketika kemampuan kerja serta kesempurnaan berarti segala-galanya, dan perusahaan-perusahaan berusaha keras menjadi “yang terbaik dikelasnya” apapun yang nilainya kurang dari yang terbaik akan menghambat tujuan, atau bahkan kelangsungan hidup, seluruh perusahaan. Dasar kinerja yang berdasarkan kepuasan inilah yang membuat campers  tetap di kerjakan dan membuat mereka yang memiliki visi, yang  terus bekerja semaksimal mungkin, frustasi.

Campers bisa melakukan pekerjaan yang menuntut kreativitas dan mengambil resiko dengan penuh perhitungan, tetapi biasanya mereka mengambil jalan yang aman. Kreativitas dan kesediaan mengambil risiko hanya di lakukan dalam bidang-bidang yang  ancamannya kecil sekali. Berkemah, menurut definisinya, menghindarkan Campers dari pengalaman yang mungkin dapat menimbulkan perubahan besar dalam hidupnya.  Di era ketika bertindak keluar jalur  telah berubah dari kemewahan menjadi suatu keterampilan bertahan hidup bagi kebanyakan perusahaan, kecenderungan Campers untuk tetap bertahan di satu jalur barangkali akan menjadi pelajaran yang sangat mahal, atau malah fatal.

Apa yang terjadi secara fisik dan intelektual pada orang-orangyangterlalu lama berkemah di suatu tempat? Atrofi (terhentinya pertumbuhan ). Semakin lama berkemahnya, semakin besar atrofinya. Lama-kelamaan,Campers akan kehilangan kemampuan untuk mendaki. Dan, kalau sudah mengalami atrofi mereka akan semakin merasa terancam oleh orang-orang yang melakukan Pendakian. Campers  juga bisa kehilanagan keunggulannya, menjadi semakin lamban dan lemah,dan kinerjanya terus merosot. Seiring dengan berjalannya  waktu, mereka akan sampai  pada kesadaran yang sudah terlambat, bahwa dengan mencobabertahan di suatu tempat, mereka akhirnya kehilangan tempat berpijak.

Berbeda dengan Campers dan Quitters,Climbers menyambut baik tantangan-tantangan,dan mereka hidup dengan  pemahaman bahwa ada hal-hal yang mendesak dan harus segera di bereskan. Mereka bisa memotivasi diri sendiri, memiliki semangat tinggi dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup. Climbers merupakan katalisator tindakan, mereka cenderung membuat segala sesuatu terwujud. Karena climbers membaktikan diri pada pertumbuhan dan pembelajaran seumur hidup, mereka merasakan suatu kekerabatan yang erat dengan prinsip Jepang, Kaizan, atau perbaikan terus-menerus yang dirangsang dalam banyak perusahaan.

sumber :

http://books.google.co.id/books?id=pJfgeBcKF3EC&printsec=frontcover&dq=adversity+quotient&hl=id&sa=X&ei=rGq2UpeoK8eNrQer5IDgAg&redir_esc=y#v=onepage&q=adversity%20quotient&f=false

Melatih Adversity Quotient

Adversity adalah kemampun seseorang untuk menghadapi, masuk dan mengatasi berbagai tantangan hidup. Adversity terdiri atas beberapa komponen seperti kegigihan, ketegaran, mengatasi kesulitan, tahan banting. Adversity mencakup daya juang dan daya tahan seeorang dalam merubah kesulitan, kesengsaraan, kemalangan dan kerepotan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Berdasarkan tipenya, adversity dibage menjadi 3 kelompok:

adver

1. Tipe Quitters : memilih untuk keluar dan menghindar, menghentikan pendakian, menolak kesempatan yang diberikan oleh lingkungan, mereka mengabaikan dan meninggalkan dorongan inti untuk merdeka,  serta mereka cenderung murung, sinis, mudah menyalahkan orang dan membenci orang-orang yang cenderung lebih berkembang dari mereka.

2. Tipe Camper : mereka tidak pergi terlalu jauh dan berhenti disuatu titik, karena bosan mereka mengakhiri perjalanan, melepaskan kesempatanuntuk lebih maju yang sebenarnya masih bisa diraih, serta mudah berpuas diri dan tidak mau mengembangkan diri.

3. Tipe Climber : pemikir yang slalu berpikir tentang sebuah peluang, tidak membiarkan ras, umur, jenis kelamin, cacat fisik/mental menghambat perjalanan mereka, tidak pernah menyesali ketidakberhasilan, dan mereka merupakan pembelajar seumur hidup.

Sumber :

Yosep, Iyus & Ai Mardhiyah.(2010). Spirit & Soft Skill of Nursing Entrepreneur.  Bandung: Refika Aditama

Pengertian Adversity Quotient

Menurut bahasa, kata adversity berasal dari bahasa Inggris yang berarti kegagalan atau kemalangan (Echols & Shadily, 1993: 14). Adversity sendiri bila diartikan dalam bahasa Indonesia bermakna kesulitan atau kemalangan, dan dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakbahagiaan, kesulitan, atau ketidakberuntungan. Menurut Rifameutia (Reni Akbar Hawadi, 2002: 195) istilah adversity dalam kajian psikologi didefinisikan sebagai tantangan dalam kehidupan.

Nashori (2007: 47) berpendapat bahwa adversity quotient merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya. Leman (2007: 115) mendefinisikan adversity quotient secara ringkas, yaitu sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah. Beberapa definisi di atas yang cukup beragam, terdapat fokus atau titik tekan, yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis dalam menghadapi problematika atau permasalahan yang sedang dialami.

Sebagaimana yang diungkapkan Stoltz (2000: 9) adversity quotient sebagai kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara teratur. Adversity quotient membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari seraya tetap berpegang teguh pada prinsip dan impian tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi.

Menurut Stoltz (2000: 12), kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan terutama ditentukan oleh tingkat adversity quotient. Adversity quotient tersebut terwujud dalam tiga bentuk, yaitu :

  1. Kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
  2. Suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang terhadap kesulitan,
    dan
  3. Serangkaian alat untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa adversity quotient merupakan suatu kemampuan individu untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala macam kesulitan sampai menemukan jalan keluar, memecahkan berbagai macam permasalahan, mereduksi hambatan dan rintangan dengan mengubah cara berfikir dan sikap terhadap kesulitan
tersebut.

2. Dimensi-dimensi Adversity Quotient
Stoltz (2000: 102) menawarkan empat dimensi dasar yang akan menghasilkan kemampuan adversity quotient yang tinggi, yaitu :

a. Kendali/control ( C )

Kendali berkaitan dengan seberapa besar orang merasa mampu mengendalikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dan sejauh mana individu merasakan bahwa kendali itu ikut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan.

b. Daya tahan/endurance ( E )

Semakin tinggi daya tahan yang dimiliki oleh individu, maka semakin besar kemungkinan seseorang dalam memandang kesuksesan sebagai sesuatu hal yang bersifat sementara dan orang yang mempunyai adversity quotient yang rendah akan menganggap bahwa kesulitan yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bersifat abadi, dan sulit untuk diperbaiki.

c. Jangkauan /reach ( R )

Jangkauan merupakan bagian dari adversity quotient yang mempertanyakan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian
lain dari individu. Reach atau jangkauan menunjukkan kemampuan dalam melakukan penilaian tentang beban kerja yang menimbulkan stress. Semakin tinggi jangkauan seseorang, semakin besar kemungkinannya dalam merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas.

d. Kepemilikan/origin and ownership ( O2 )

Kepemilikan atau dalam istilah lain disebut dengan asal-usul dan pengakuan akan mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan sejauh mana seorang individu menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sendiri sebagai penyebab asal-usul kesulitan.

3. Faktor Pembentuk Adversity Quotient
Faktor-faktor pembentuk adversity quotient menurut Stoltz (2000: 92) adalah sebagai berikut :

a. Daya saing
Seligman (Stoltz, 2000: 93) berpendapat bahwa adversity quotient yang rendah dikarenakan tidak adanya daya saing ketika menghadapi kesulitan, sehingga kehilangan kemampuan untuk menciptakan peluang dalam kesulitan yang dihadapi.

b. Produktivitas
Penelitian yang dilakukan di sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kinerja karyawan dengan respon yang diberikan terhadap kesulitan. Artinya respon konstruktif yang diberikan seseorang terhadap kesulitan akan membantu meningkatkan kinerja lebih baik, dan sebaliknya respon yang destruktif mempunyai kinerja yang rendah.

c. Motivasi
Penelitian yang dilakukan oleh Stoltz (2000: 94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat mampu menciptakan peluang dalam kesulitan, artinya seseorang dengan motivasi yang kuat akan berupaya menyelesaikan kesulitan dengan menggunakan segenap kemampuan.

d. Mengambil resiko
Penelitian yang dilakukan oleh Satterfield dan Seligman (Stoltz, 2000: 94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient tinggi lebih berani mengambil resiko dari tindakan yang dilakukan. Hal itu dikarenakan seseorang dengan adversity quotient tinggi merespon kesulitan secara lebih konstruktif.

e. Perbaikan
Seseorang dengan adversity quotient yang tinggi senantiasa berupaya mengatasi kesulitan dengan langkah konkrit, yaitu dengan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek agar kesulitan tersebut tidak menjangkau bidang-bidang yang lain.

f. Ketekunan
Seligman menemukan bahwa seseorang yang merespon kesulitan dengan baik akan senantiasa bertahan.

g. Belajar
Menurut Carol Dweck (Stoltz, 2000: 95) membuktikan bahwa anak-anak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola pesimistis.

sumber :

http://eprints.uny.ac.id/9771/2/BAB%202%20-%2007104244092.pdf

Adversity Quotion – Kesiapan Menghadapi Tantangan

Personality Ranitya HY

TIME MANAGEMENT

Personality Annisa Noor Ramdhani

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

personalityaanyaandriani

Kecerdasan Spiritual

Personality Rizki

Positive Thinking

Personality Dede Nurhayati

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

Personality Noor Fathara

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Personality Fika

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

Personality Gatot Nugroho Prastomo

Positive Thinking - Semua hal baik di dunia ini berawal dari pikiran positif

Personality Siti Solihah

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence)

personalitynabila

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

Personality Rara Rianita

Positive Thinking (Berpikir Positif)

personalityriskaagriani

Kecerdasan Spiritual

Personality Selly Desiani

Emosional Intellegence. Control your emotions or your emotions will control you!!

personality latifa

berpikir positif

Personality Erviana Anggi Puteri

Positive Thinking (Berpikir Positif)

PersonalityMuchibbaturrachmah

TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATI, ALTRUISM